01/09/2026
APAPUN LEVEL KARIERMU, TETAPLAH BURUH
Kita hidup di zaman ketika eksploitasi tidak selalu datang dalam bentuk cambuk.
Kadang ia hadir dalam bentuk kantor nyaman, jabatan bergengsi, bonus, laptop perusahaan, dan secangkir kopi di meja kerja.
Ia tidak selalu berkata, “Kamu harus bekerja.”
Kadang ia berkata:
“Ini kesempatan untuk berkembang.”
Dan kita menerimanya dengan senang hati.
Di sinilah persoalannya.
Kapitalisme modern tidak selalu membutuhkan pekerja yang merasa dipaksa. Ia sering membutuhkan pekerja yang merasa bebas ketika bekerja lebih banyak.
Buruh pabrik menjual tenaga.
Programmer menjual keahlian.
Guru menjual pengetahuan dan waktu.
Konsultan menjual pengalaman.
Manager menjual kemampuan mengelola.
Eksekutif menjual kemampuan mengambil keputusan.
Pekerjaannya berbeda.
Gajinya berbeda.
Jabatannya berbeda.
Tetapi ada satu kesamaan:
Mereka menukar kapasitas kerja dengan penghasilan.
Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap kenaikan jabatan berarti kita sudah keluar dari kelas pekerja.
Kadang kita hanya mendapatkan kursi yang lebih empuk dalam struktur yang sama.
Masalah muncul ketika jabatan dianggap membuat seseorang lebih bernilai sebagai manusia.
Manager merasa lebih penting daripada operator.
Direktur merasa lebih penting daripada staf.
Padahal organisasi hanya membagi fungsi.
Bukan membagi martabat manusia.
Yang lebih menarik, kita sering memberi nama baru pada eksploitasi.
Lembur disebut dedikasi.
Bekerja di luar batas disebut ownership.
Tidak mengambil cuti disebut komitmen.
Selalu tersedia di luar jam kerja disebut responsibility.
Bekerja sampai kelelahan disebut passion.
Dan ketika seseorang menolak?
Ia dianggap tidak memiliki growth mindset.
Bahasanya berubah. Relasi kuasanya tetap.
Tentu kita boleh mengejar karier.
Boleh ingin kaya.
Boleh menjadi manager, direktur, bahkan pemilik perusahaan.
Tetapi pertanyaannya bukan hanya:
“Seberapa tinggi saya bisa naik?”
Melainkan:
“Ketika saya naik, apakah saya ikut membuat sistem menjadi lebih manusiawi?”
Jika seseorang naik dari pekerja menjadi manager, lalu memperlakukan pekerja lain dengan buruk seperti dahulu ia diperlakukan, maka yang berubah hanyalah orangnya.
Strukturnya tetap sama.
Maka, apa arti:
“Apapun level kariermu, tetaplah buruh.”
Bukan berarti semua orang harus miskin.
Bukan berarti manager sama dengan operator.
Bukan berarti kepemilikan modal tidak penting.
Maksudnya sederhana:
Jangan kehilangan kesadaran bahwa kita adalah bagian dari relasi kerja.
Pekerja bukan properti.
Bawahan bukan sekadar angka produktivitas.
Dan kenaikan jabatan tidak memberi kita martabat yang lebih tinggi sebagai manusia.
Suatu hari kita semua akan meninggalkan kantor.
CEO maupun office boy.
Direktur maupun staf.
Manager maupun operator.
Kursi kita akan ditempati orang lain.
Yang tersisa bukan jabatan.
Bukan kartu nama.
Bukan ukuran ruangan.
Yang tersisa adalah jejak bagaimana kita memperlakukan manusia ketika kita memiliki kekuasaan.
Karena itu, silakan naik.
Naik setinggi mungkin.
Tetapi jangan pernah naik terlalu tinggi sampai lupa bagaimana rasanya berada di bawah.
APAPUN LEVEL KARIERMU, TETAPLAH BURUH.
Bukan karena kita rendah.
Tetapi karena dengan mengingat bahwa kita adalah pekerja, kita akan lebih sulit memperlakukan pekerja lain sebagai manusia yang lebih rendah.
Mungkin, di situlah awal perubahan.