Digi Cop Indonesia

Digi Cop Indonesia Perusahaan CCTV dan Security Terbaik Surabaya

29/07/2024

JERITAN DAN HARAPAN ANAK-ANAK PEKERJA MIGRAN ILEGAL ASAL INDONESIA

- Ekspresi Melalui Puisi Esai (1)

Denny JA

Malam itu, Konsulat Jenderal Indonesia untuk Sabah, Rafail Walangitan, bercerita. Kami duduk bersebelahan.

“Total jumlah migran Indonesia yang ilegal di seluruh Malaysia lebih dari 1 juta orang. Mereka beranak-pinak. Paling banyak mereka berada di Sabah.”

“Kita memang serba salah,” ujarnya lebih lanjut. “Di satu sisi, sebagai sesama warga Indonesia, tentu mereka harus kita lindungi. Tapi memang kita tahu juga kedatangan warga secara ilegal ke negara manapun itu terlarang.”

“Untung banyak warga di sini yang juga peduli. Mereka membuat sekolah Indonesia untuk anak-anak pekerja ilegal itu.”

Malam itu, Datuk Jasni Matlani, penerima penghargaan SEA Write 2015, membuat acara “Dinner Bersama Denny JA,” di Kota Kinabalu, Malaysia. Kecuali Konsulat Jenderal, hadir p**a Menteri Mohamad Arifin. Saya juga berjumpa dengan pimpinan tertinggi Sabah, Hajiji Noor, keesok harinya.

Dalam Festival Puisi Esai ASEAN ke-3, Juni 2024, rombongan Indonesia hadir ke Sekolah Indonesia di Sabah itu, di Kundasang.

Malam ini, Juli 2024, saya menerima naskah. “Mas Denny, ini karya anak-anak Indonesia di Sabah, dari keluarga migran ilegal itu. Mereka menuliskan kisah mereka dalam puisi esai.”

-000-

Terpana saya membaca ekspresi jeritan hati anak-anak pekerja migran ini. Juga terharu ungkapan harapan guru sekolah. Ekspresi dan ungkapan itu disampaikan melalui puisi esai.

Mereka bersama membuat buku antologi puisi esai berjudul "Di Ladang Rantau." Penulisnya 2 guru dan 24 siswa SIKK (Sekolah Indonesia Kota Kinabalu).

Saya diberi kabar proses penulisan puisi esai di sana.

“Prosesnya: Bengkel puisi esai 1 hari - kemudian pengayaan oleh guru 1 minggu - kemudian - penulisan 2 minggu - kemudian editing dan layout 2 minggu.

Rangkaian proses itu dibantu Badan Bahasa, terutama Datuk Jasni Matlani.”

Ada puisi esai berjudul: Setitik Cahaya, ditulis oleh Adinda Shaumi – Kelas IX.

Ia menggambarkan kisah seorang remaja bernama Muda yang diterima di sekolah impian. Namun Muda mengalami kesulitan karena ditangkap oleh polisi dan dipenjara.

Muda bertemu dengan seorang tahanan lain bernama Tama yang membantunya untuk melarikan diri. Dengan bantuan kunci dari Tama, Muda berhasil kabur dan bertekad membawa "setitik cahaya" bagi keluarganya dan memenuhi harapan ibunya.

Puisi ini mengangkat tema perjuangan, harapan, dan tekad untuk mencapai impian meskipun dihadang oleh berbagai rintangan.

“Pintu besi berhasil dibuka.
Muda melangkah keluar.
Melambaikan tangan kepada Tama.
Menunggu kamera pengawas berbalik.

Tiba di ujung lorong, ia menemukan pintu rahasia itu.
Dirogohnya kunci dari saku.
Membuka pintu itu dengan kaku.
Lalu, ia melihat cahaya bulan seperti lampu.

Berhasil.
‘Ayah, ibu, dan Bang Tama, tunggu aku bawa setitik cahaya, ya.’

Juga puisi esai berjudul: Pulang ke Indonesia, ditulis oleh Muajiza Revania – Kelas X.

Puisi esai ini bercerita tentang Tasha. Ia seorang gadis yang lahir dan besar di negara tetangga karena orang tuanya bekerja sebagai buruh migran.

Tasha bermimpi untuk kembali ke Indonesia dan melanjutkan pendidikan di sana. Meskipun ayahnya awalnya ragu, Tasha mendapatkan dukungan dari ibunya. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Universitas Indonesia.

Dengan tekad yang kuat, Tasha berangkat untuk mewujudkan cita-citanya dan berharap suatu hari bisa membawa orang tuanya kembali ke Indonesia. Puisi ini mengangkat tema perjuangan, harapan, dan cinta terhadap tanah air.

“Setelah lama bersusah payah,
terbayar juga usaha Tasha,
mendapat panggilan melanjutkan kuliah.
Beasiswa di Universitas Indonesia.

Tasha pun harus berangkat
memenuhi panggilan cita-citanya.
Suatu saat ia akan kembali,
membawa Ayah dan Ibu,
p**ang dari negeri ini.

Ayah Ibu, doakan Tasha:
sehat, waras, bergas, cergas,
agar menjadi pemimpin yang bijaksana,
membantu orang-orang yang tertindas.”

Juga ini puisi esai berjudul: Kisah di Balik Repatriasi. Ini puisi ditulis oleh Panji Pratama – Guru SIKK. Tak hanya murid, tapi guru juga menuliskan ekspresi batinnya, kegelisahannya, melalui puisi esai.

Puisi esai ini menggambarkan kehidupan sulit keluarga pekerja migran Indonesia di Malaysia. Ekspresi hati ini terbagi menjadi tiga bagian:

Bagian pertama menceritakan kondisi hidup empat orang. Mereka satu keluarga yang tinggal di bedeng sempit dan tidak layak.

Sang ayah awalnya tertipu oleh calo yang menjanjikan gaji besar. Kenyataannya mereka hidup dalam kemiskinan dan sulit untuk p**ang. Mereka sudah kehabisan uang dan dicap sebagai pekerja ilegal.

Bagian kedua soal nasib tragis sang ayah. Ia tewas diterkam buaya ketika berusaha p**ang dengan uang hasil kerja.

Keluarga di kampung mendengar kabar duka ini. Sementara anak sulung, Rewo, baru saja mendapat kabar gembira. Ia lulus sekolah dan mendapatkan beasiswa repatriasi untuk melanjutkan pendidikan di Kalimantan Utara.

Bagian ketiga berkisah soal Rewo yang sudah dewasa, lulus SMA, dan bekerja. Ia mengajak ibu dan adiknya p**ang ke Indonesia.

Puisi ini menyoroti dilema pekerja migran yang sering dianggap pahlawan devisa. Namun kenyataannya mereka menghadapi banyak kesulitan dan ketidakpastian nasib.

Puisi ini mengangkat tema perjuangan pekerja migran, pengorbanan, harapan untuk p**ang. Tergambar juga kenyataan pahit yang sering mereka hadapi.

“Kini, Rewo sudah dewasa.
Sudah lulus SMA dan diterima bekerja.
Mengajak p**ang adik dan mama.
Kembali ke pangkuan negara tercinta.

Enaknya bekerja di luar negeri.
Bisa jadi pahlawan devisa yang dipuji-puji.
Entah itu cuma opini atau ironi.
Disebut mereka para PMI.

“Marilah p**ang wahai generasi
yang sudah lama tinggal di luar negeri,”
kata Rewo yang tidak tahu pasti.
Apakah takdir akan berubah suatu hari nanti.”

Perlu juga diberi catatan. Tidak semua yang menulis puisi esai ini ilegal, dan tak semua yang sekolah di SIKK ilegal

-000-

Pekerja migran ilegal dari Indonesia, datang ke Sabah pada tahun 1970-an. Mereka mengarungi lautan menuju tanah yang mereka anggap lebih memenuhi harapan.

Dengan tekad yang kuat, mereka meninggalkan rumah dan keluarga di Sulawesi, Jawa, dan Nusa Tenggara Timur. Ke sana, mereka membawa mimpi untuk meraih kesejahteraan di negeri seberang.

Mengapa pergi ke Sabah? Mungkin karena dekatnya jarak geografis. Atau itu karena cerita-cerita tentang ladang kelapa sawit yang luas dan konstruksi yang menjulang tinggi. Atau daya tarik pekerjaan dengan upah yang lebih baik.

Namun, kenyataan seringkali jauh dari harapan. Banyak dari mereka yang terpaksa memilih jalur ilegal. Itu bukan karena mereka ingin. Tapi ini karena birokrasinya yang rumit dan biaya yang tak terjangkau.

Mereka datang dengan kapal-kapal kecil, menghindari tangkapan petugas. Mereka berharap menemukan tempat bekerja dan hidup dengan layak.

Di negeri yang mereka pijak dengan penuh harap itu, kenyataan berbicara lain. Mereka bekerja dalam kondisi yang keras, di bawah kejaran polisi setempat. (2)

Upah yang mereka terima seringkali jauh dari cukup. Tanpa status legal, mereka tidak memiliki perlindungan hukum.

Mereka seperti hidup sebagai bayang-bayang, tersembunyi dari pandangan. Mereka bekerja tanpa henti untuk mimpi yang kadang terasa semakin menjauh.

Kehidupan mereka dipenuhi ketidakpastian dan ketakutan. Setiap hari adalah perjuangan untuk tetap tersembunyi, untuk tidak tertangkap dan dideportasi.

Mereka tidak memiliki akses ke layanan kesehatan atau pendidikan. Anak-anak mereka tumbuh dalam ketidakpastian.

Dan ketika akhirnya tertangkap, deportasi menjadi mimpi buruk yang nyata. Itu mengembalikan mereka ke titik nol tanpa apa-apa.

Ada secercah harapan melalui program repatriasi. Program ini menawarkan jalan p**ang yang aman dan bermartabat. Yakni mengembalikan mereka ke tanah air dengan bantuan dokumen perjalanan, transportasi, dan program reintegrasi.

Pemerintah Indonesia, bekerja sama dengan berbagai organisasi internasional, berusaha untuk menyusun langkah-langkah yang manusiawi. Tujuan utama mengembalikan mereka ke pangkuan ibu pertiwi.

Program repatriasi ini tidak hanya memberikan tiket p**ang, tetapi juga harapan baru untuk memulai kembali, membangun hidup yang lebih baik di negeri sendiri.

-000-

Membaca ekspresi hati anak-anak SMP, SMA, dan gurunya, warga Indonesia yang ilegal di Malaysia, kita melihat foto album yang muram.

Mereka memberi kesaksian. Mereka bersuara. Puisi esai menjadi medium ekspresinya.

Sayapun teringat kutipan dari Dylan Thomas: “puisi yang baik adalah kontribusi terhadap realitas. Dunia tidak pernah sama setelah sebuah puisi yang baik ditambahkan ke dalamnya.”

Kutipan ini menunjukkan bagaimana puisi dapat mengubah persepsi kita tentang dunia. Dan puisi memberikan dampak yang bertahan lama pada pembaca.***

Jakarta, 20 Juli 2024

CATATAN

(1) Tidak semua yang menulis puisi esai ini ilegal, dan tak semua yang sekolah di SIKK ilegal

(2) Kisah pekerja Indonesia ilegal di Sabah

Sebanyak 500 TKI ilegal 'telah ditangkap' aparat hukum Malaysia - BBC News Indonesia

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-40553763.amp

29/07/2024

KETIKA ORANG PINTAR PUN MENJADI JONGOS

- Menyambut Pertunjukkan Teater di Jogjakarta: The Jongos

Denny JA

“Di Luar Oligarki, Semua Hanyalah Korban.”

Ini kalimat pembuka dari skenario teater yang mengambil judul the Jongos.

Membaca kalimat pembuka itu,
seketika saya mengembangkan imajinasi. Oligarkhi di tanah air begitu sering dibicarakan. Naskah ini mungkin kritik sosial atas praktek oligarkhi yang ada, terhadap kondisi ekonomi dan politik yang semakin didominasi oleh segelintir orang saja.

Judul The Jongos itu juga membangkitkan dugaan. Apakah pertunjukkan teater kali ini ingin membuka mata, betapa kini orang- orang pintar, intelektual, aktivis, politisi hanya menjadi The Jongos saja, menjadi babu saja dari majikan penguasa?

Sayapun membaca cuplikan awal dialog karakter di naskah itu.

KOTTO:

“Ya wajar d**g! Karena hanya orang berkuasa dan kaya yang berhak marah!”

BUSRIL:

“Tapi kita juga berhak tersinggung dan marah?”

KOTTO:

“Oh ya enggak, (pause) Hak kita hanya untuk dimarahi. Itulah kodrat jongos yang sejati. Paham?”

BUSRIL:

“Wah ya ndak bisa. Ndak bisa. Kita setara. Ini harus didobrak! Biar egaliter!”

KOTTO:

“Egaliter..egaliter ndas situ! (pause) He, kamu mesti ingat ajaran leluhur perjongosan.

Sejongos-
jongosnya Jongos yang radikal, masih lebih baik jongos yang selalu siap ditindas (tertawa).”

-000-

Naskah The Jongos ditulis oleh Indra Tranggono. Yang menjadi sutradara Isti Nugroho. Naskah dimainkan oleh Teater Dapoer Seni Djogja. Pentas teater ini untuk tanggal 10 Agustus 2024, di Auditorium, Jurusan ISI, Jogjakarta.

Pesannya memberikan kritik tajam terhadap sistem oligarki dan ketidakadilan yang merajalela. Cerita ini berpusat pada Tuan Hakim, simbol dari sistem hukum yang korup dan tunduk pada kekuasaan oligarki.

Pesan utamanya: di luar kelompok oligarki yang berkuasa dan kaya, semua orang hanyalah korban dari sistem yang korup dan tidak adil.

Skenario ini dimulai dengan Prof Dr Pras Jikmo yang memberikan jubah kepada Tuan Hakim. Itu simbol penyerahan kekuasaan.

Panggung terdiri dari tiga level yang menunjukkan hierarki sosial. Tuan Hakim di level atas. Busil serta Kotto, sebagai jongos atau pelayan, di bawah.

Lagu "Pergi Tanpa Pesan" yang dinyanyikan oleh Busil membuka cerita. Lagu itu bersuasana muram, menggambarkan ketidakadilan yang mereka alami.

Dialog antara Busil dan Kotto mencerminkan ketidakpuasan mereka terhadap sistem yang ada. Mereka berbicara tentang keadilan yang tidak pernah datang dan bagaimana mereka hanya menjadi alat bagi para penguasa.

Ketegangan meningkat ketika Tuan Hakim menunjukkan ketidakpuasannya. Hidupnya penuh tekanan dan godaan korupsi.

Prof Dr Pras Jikmo datang menekan. Kekuasaan harus dipertahankan dengan segala cara. Tak apa, meskipun itu mengorbankan integritas.

Klimaks cerita terjadi ketika Tuan Hakim menerima hadiah-hadiah dari oligarki. Hakim merasakan beban moral dan dosa. Itu hadiah atas keputusan-keputusannya yang tidak adil.

Tuan Hakim akhirnya meledakkan dirinya sendiri. Itu simbol kehancuran moral yang ditimbulkan oleh sistem korup.

Busil dan Kotto mendiskusikan nasib mereka setelah kematian tuan mereka sang hakim. Apakah mereka memilih tunduk atau menolak oligarki?

Beranikah mereka tak menjadi The Jongos bagi oligarkhi, meskipun berarti mereka harus hidup sebagai gelandangan?

Karakter-karakter dalam skenario ini, terutama Tuan Hakim, ditampilkan dengan kompleksitas moral. Terjadi pergulatan batin antara integritas dan korupsi.

Dialog yang tajam dan lucu, juga penggunaan simbolisme memperkuat pesan moral yang disampaikan.

-000-

Teater memang telah lama digunakan sebagai medium untuk menyampaikan kritik sosial. Ia memberikan suara kepada yang tertindas, dan mengajak penonton untuk berpikir kritis tentang isu-isu masyarakat. (1)

Membaca naskah The Jongos, saya pun teringat simbolisme dari
"The Crucible.” Naskah ini ditulis oleh Arthur Miller pada tahun 1953. Drama ini menggambarkan perburuan penyihir Salem pada abad ke-17.

Tetapi itu sebenarnya merupakan alegori untuk McCarthyism di Amerika Serikat pada 1950-an. Itu era ketika begitu banyak seniman, intelektual dan politisi yang diburu karena diduga bagian dari jaringan komunisme.

Perburuan atas para komunis (diduga) abad 20 itu mirip seperti perburuan atas penyihir (diduga) abad 17.

Miller menggunakan cerita tentang John Proctor, seorang petani yang dituduh sebagai penyihir tanpa bukti konkret. Ini untuk mengkritik paranoia yang menghancurkan kehidupan individu.

Pesan utama dari "The Crucible" adalah peringatan terhadap bahaya dari ketakutan kolektif. Ketidak adilan dapat terjadi ketika masyarakat dipenuhi kebencian plus prasangka, walau tidak berdasar.

Lalu The Jongos dan Hakim
dalam teater Indra Trenggono dan Isti Nugroho ini simbolisme dari peristiwa apakah?

Apakah hakim dalam naskah itu untuk mengeritik hakim MK yang meloloskan Gibran maju dalam Pilpres 2024? Apakah The Jongos itu sebagai kritik terhadap banyak pemikir, intelektual yang hanya menjadi babu dari majikan penguasa?

Penonton tentu dapat menjawab dan mengembangkan prasangkanya sendiri. Teater kritik sosial memang fungsinya memberi umpan bola lambung saja. Penonton sendiri yang harus melanjutkan umpan bola lambung itu. ***

Jakarta, 21 Juli 2024.

CATATAN

(1) Teater kritik sosial:

https://www.jstor.org/stable/1125047

29/07/2024

**In Memoriam Usamah Hisyam**

**MENJALANI HIDUP SEBAGAI PENULIS, POLITISI, PENGUSAHA DAN KIAI SEKALIGUS**

**Denny JA**

Mendengar wafatnya Usamah Hisyam (Jumat 19 Juli 2024), saya teringat teks japrinya di WA. Ia mengirimkan teks itu sekitar dua tahun lalu (2022).

“Bro, esai anda saya forward ke mana-mana. Ini penting bro, agar para pemuka Islam juga membaca data dan melihat fakta.”

Uka, panggilan akrab untuk Usamah, juga melampirkan esai saya yang ia forward ke mana-mana.

Itu esai saya soal hasil riset yang menabulasi negara berdasarkan tingkat korupsi dengan negara berdasarkan intensitas beragama.

Betapa di negara ini, mayoritas penduduknya menyatakan agama sangat penting. Lebih dari 90 persen mengaku agama menjadi panduan hidupnya.

Itu negara Indonesia, Irak (Islam), India (Hindu), Filipina (Katolik), dan Thailand (Budha). Tapi justru di negara yang menganggap agama penting, korupsi di negara itu sangat tinggi.

Sementara di negara Skandinavia, seperti Finlandia, Swedia, Norwegia, hanya di bawah 25 persen menganggap agama penting. Mereka tak merasa agama perlu sebagai pedoman hidup.

Tapi justru di negara yang tak menganggap agama penting, tingkat korupsi di negara itu sangat rendah. Itu negara yang bersih.

KPK pun di Indonesia membuat skala. Departemen yang paling korup justru departemen agama. Beberapa kali menteri agama masuk penjara.

Dalam esai itu saya mengajak merenung. Apa yang terjadi? Di negara yang mengelu-elukan agama, kok malah korupsi tinggi? Pop**asi di negara yang menganggap agama tak lagi penting, kok malah korupsinya rendah?

Kami pun bicara di HP. “Wah bro, anda mengasuh pesantren ya. Jadi kiai anda sekarang?” ujar saya menggodanya. Uka tertawa: “Kita mengalir saja bro. Kita kan orang-orang yang fleksibel.”

Saat itu, Usamah menjadi Pengasuh Pesantren Tahfizhul Quran (PTQ) Pondok Bambu Parung, Bogor. Ia rutin berdakwah di sana.

Usamah juga ketua umum Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia). Sebelumnya ia anggota Dewan Penasehat PA 212.

-000-0

Uka adalah teman keluarga. Sejak tahun 1980-an, 40 tahun lalu, ketika masa SMA dan mahasiswa, ia sering tidur di rumah keluarga dari sisi istri. Ia bersahabat sangat dekat dengan adik ipar.

Saya sendiri intens berkomunikasi dengan Uka, sejak tahun 2003. Saat itu hampir setiap saat kami berjumpa di rumah SBY di Cikeas. Bersama kami membantu SBY untuk menjadi presiden 2004-2009.

Itu era, sosok kiai Uka belum nampak. Ia masih muncul sebagai jurnalis. Ia menyelesaikan studi Ilmu Jurnalistik di Sekolah Tinggi Publisistik (STP). Sekarang sekolah itu dikenal sebagai Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Karir jurnalistiknya mulai menanjak ketika ia bekerja di majalah Pop**ar, di bawah bimbingan Pemimpin Redaksi John Halmahera. Di sana, Usamah menulis profil artis dan artikel sepakbola.

Hidupnya mulai berubah ketika Uka berjumpa Surya Paloh pada tahun 1991. Surya Paloh sedang mengembangkan Kelompok Usaha Surya Persindo.

Paloh menugaskan Usamah sebagai redaktur edisi Minggu Media Indonesia, dengan gaji tiga kali lipat dari pekerjaan sebelumnya. Uka juga menerima sebuah mobil sedan pribadi.

Sosok Uka sebagai jurnalis berkembang menjadi penulis biografi. Ia memiliki tim sendiri untuk profesi ini. Banyak buku biografi yang sudah ia tulis.

Yang saya tahu, biografi Panglima ABRI Jenderal TNI Feisal Tanjung, Panglima TNI Laksamana TNI Widodo AS. Jaksa Agung Andi M. Ghalib.

Termasuk juga biografi Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Juga biografi Kapolri Jenderal Pol Suroyo Bimantoro, Tifatul Sembiring, dan Surya Paloh.

Ujar Uka, “Saya tak hanya jurnalis bro. Saya juga entrepreneur di bidang penulisan. Kita mulai menjadi pengusaha dari titik ini.”

Uka juga menerbitkan beberapa majalah, antara lain Men’s Obsession. Majalah ini masih terbit hingga hari ini. Saya pernah diajaknya ke gedung yang baru dibelinya.

“Wah, anda kaya sekarang bro,” komentar saya. Ia tertawa.

-000-

Tapi Uka juga menapak hidupnya menjadi politisi. Awalnya, karena kerja jurnalis, ia intens berhubungan dengan politisi di PPP.

Uka mendapatkan kepercayaan dari Ketua Umum PPP, Buya Ismail Hasan Metareum. Ia menjadi penulis pidato Ketua Umum PPP dari tahun 1992 hingga 1998.

Usamah kemudian diangkat menjadi Ketua Departemen Penerbitan dan Media Massa DPP PPP, yang memulai karirnya di politik praktis.

Pada tahun 2002, saat Hamzah Haz menjadi wakil presiden, Usamah diangkat sebagai asisten pribadi Hamzah Haz. Dalam peran ini, ia banyak memberikan masukan mengenai dinamika sosial politik.

Ketika SBY menjadi presiden di tahun 2004, dan sebagai Ketum Partai Demokrat, Uka sempat mengajak saya diskusi. “Bro, saya ditawari pegang DPD Demokrat provinsi Banten. Bagaimana, bro?”

Posisi Ketua DPD Demokrat Banten diambilnya. Namun tak lama kemudian, jabatan itu ditinggalkannya juga.

-000-

Usamah memang pribadi yang fleksibel. Ia mudah bergaul, lintas profesi. Tak heran, ia bisa kokoh sebagai penulis, jurnalis, pengusaha, politisi, dan kiai sekaligus.

Ketika tahlil 7 hari ibu (mertua) wafat, Uka datang, di bulan Februari 2024. Itulah pertemuan saya yang terakhir dengannya.

Jalannya tak selancar dulu. Bicaranya juga tak setangkas dulu. “Saya sakit, bro,” ujarnya.

Ia sempat memberikan pandangannya. “Bro, anda sebaiknya memang tetap seperti ini saja. Tak usah masuk partai. Tak usah jadi menteri. Jadi teman presiden saja, dan bangun dunia anda sendiri.”

“Jauh lebih enak seperti anda bro, jadi orang bebas.” “Siap,” ujar saya sambil tertawa, menyalami tangannya.

Selamat jalan Usamah Hisyam. Selamat jalan, Uka.

**Jakarta, 21 Juli 2024**

# # # CATATAN

(1) Data mengenai hubungan tingkat keberagamaan dan tingkat korupsi, dapat dibaca di [Facebook Link](https://www.facebook.com/share/p/e7JsMRVeSwy4QYyY/?mibextid=K35XfP).

29/07/2024

MUNDURNYA JOE BIDEN

- Dan Kemungkinan Presiden Perempuan Pertama di Amerika Serikat?

Donald Trump bukan presiden pertama yang dikalahkan, lalu mencalonkan lagi sebagai presiden.

Joe Biden juga bukan presiden pertama yang tak lagi maju untuk jabatan kedua.

Apa yang terjadi sebenarnya?

Orasi Denny JA 👇

https://youtu.be/xwAAPL3NjA8?si=dXd8JzX6OWrMI--o

👆

# Dari Akun Youtube ORASI DENNY JA, berisi 379 video orasi soal filsafat hidup, sejarah, politik, agama, sastra, review film dan buku, psikologi, lagu dan catatan perjalanan

29/07/2024

# # # YANG BUKAN KRITIKUS SENI RUPA BOLEH AMBIL BAGIAN

Pengantar Buku 25 Review Soal Pameran Lukisan Dengan Asisten Artificial Intelligence

*Denny JA*

Datangnya era artificial intelligence memungkinkan itu. Kreator yang memamerkan lukisannya bukanlah pelukis profesional, yang dikenal memiliki tradisi panjang di dunia lukisan. Pengulas pameran lukisan itu bukan p**a kritikus seni rupa.

Memang, dua puluh lima penulis ini bukanlah kritikus seni rupa profesional. Mereka tidak belajar teori seni rupa, dan bukan p**a yang berprofesi sebagai pelukis.

Mereka adalah sastrawan, penulis kolom, wartawan, aktivis keberagaman agama, ahli hukum, dan pengajar. Mereka melihat pameran lukisan, lalu menuliskan pengalamannya.

Lukisan yang mereka nikmati bukan p**a lukisan biasa. Itu 186 lukisan karya seorang konsultan politik, saya sendiri, yang dibantu oleh asisten artificial intelligence.

Ruang pameran pun bukanlah Taman Ismail Marzuki atau galeri pada umumnya. Tempat memajang lukisan hanyalah dinding kosong sebuah hotel 6 lantai di jalan Mahakam, Jakarta, yang kemudian disulap menjadi galeri.

Di situlah uniknya. Ini era ketika terjadi demokratisasi seni rupa. Akibat kehadiran artificial intelligence, yang bukan pelukis profesional pun bisa menumpahkan gejolak batin dan visinya ke dalam kanvas.

Yang bukan kritikus seni rupa pun bisa mengekspresikan pengalamannya, tidak dengan teori seni rupa, tapi sisi human interest, kesan personal atas lukisan. Artificial intelligence pun bisa mereka gunakan untuk menambah bobot tulisan.

-000-

Membaca ulasan seni rupa 25 penulis ini, saya teringat review Amelia Brown. Saat itu ia menghadiri dan menikmati pameran “Whitney Biennial 2017" di Whitney Museum of America. (1)

Amelia Brown, seorang penulis yang tidak memiliki latar belakang kritikus seni. Ia mengunjungi Whitney Biennial 2017 di New York dan menulis ulasan berdasarkan pengalamannya pribadi.

Tulisnya: “Saya mengunjungi Whitney Biennial 2017 di Whitney Museum of American Art dengan harapan menemukan perspektif baru tentang dunia seni kontemporer. Pameran ini penuh dengan karya-karya yang beragam, mulai dari instalasi hingga seni performatif.

“Meskipun saya bukan ahli seni, beberapa karya berhasil membuat saya merenung tentang isu-isu sosial dan politik yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.”

“Salah satu karya yang paling berkesan adalah "Repellent Fence.” Instalasi ini menampilkan pagar besar yang melintasi perbatasan AS-Meksiko, menciptakan visual yang kuat tentang pemisahan dan koneksi antara dua negara.”

“Karya ini memaksa saya untuk berpikir lebih dalam tentang isu imigrasi dan identitas.”

“Karya lain yang menarik perhatian saya adalah "Ramps" oleh Park McArthur. Perupa ini menggunakan ramp sebagai patung untuk mengeksplorasi isu-isu disabilitas dan aksesibilitas. “

“Ramps adalah jalur sirkulasi yang memiliki kemiringan, dan biasanya digunakan sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga.”

“Instalasi ini mengingatkan saya betapa pentingnya membuat desain untuk semua orang, termasuk yang hanya bisa lewat Ramps saja. Seni dapat mengangkat isu-isu yang sering kali terabaikan.”

-000-

Mengapa ulasan Amelia Brown, dan juga 25 penulis di buku ini tetap menarik dibaca, walau mereka bukan ahli seni rupa? Empat hal ini bisa menjadi panduan.

# # # 1. Personalisasi Pengalaman

Mengaitkan karya seni dengan pengalaman pribadi atau perasaan dapat membuat ulasan lebih dimengerti dan menarik bagi pembaca. Pola ini paling banyak diekspresikan dalam ulasan di buku ini.

Mengulas aneka lukisan soal COVID-19, ada yang menghubungkan lukisan itu dengan pengalamannya hampir mati ketika menjadi korban virus itu.

“Sungguh mengerikan! Aku merinding, ingat masa-masa yang kritis dalam hidupku, antara hidup dan mati, saat melihat lukisan-lukisan tragedi pandemi COVID-19 di lantai dua Mahakam 24 Residence, Blok M, Jakarta.

Betapa tidak, saat itu Juni 2021, aku, istri, dan keempat anakku, semuanya terkena gigitan virus COVID-19. Aku yang paling parah. Seluruh tubuhku seperti dicincang. Sakit sekali.

Aku pasrah. Saat itu aku mengadu, "Tuhan, aku sudah siap jika Engkau ambil nyawaku, daripada sakit luar biasa diterkam virus Corona."

“Gambaran seperti itulah yang terbayang dalam benakku ketika menyaksikan puluhan lukisan Denny JA (DJA) yang berada di lantai dua Mahakam.”

“Dengan bantuan AI (Artificial Intelligence), DJA berhasil "membetot kenangan" munculnya tragedi terbesar abad 21, pandemi COVID-19, yang membunuh ratusan ribu --bahkan jutaan manusia -- di seluruh dunia.” (Saefudin Simon)

Atau ketika melihat lukisan soal imajinasi anak-anak, ada yang menghubungkannya dengan pengalamannya sendiri ketika masa kanak-kanak.

“Dan lukisan AI karya Denny jelas menyajikan dunia anak dengan segala imajinasi, keceriaan dan kepolosan mereka.

Terus terang aku langsung teringat dengan masa kecilku yang kurang lebih sama: asyik dengan imajinasi dan mimpi. Aku pernah membayangkan mengendarai kuda sembrani bertanduk, dengan warna pelangi.

“Kuda itu bisa berbicara dan terbang membawaku ke angkasa. Aku terbang di antara awan-awan, mengunjungi istana yang dasarnya bukan tanah, tapi awan. Lalu bertemu bidadari dan menyapa peri-peri mungil. Kami berteriak bersama, girang segirang-girangnya.” (Swary Utami)

Atau ketika melihat lukisan Jakarta tempo dulu, ia menceritakan pengalaman melihat patung itu di masa lalu.

“Ada tiga lukisan yang membekas dalam hati saya. Pertama, lukisan patung Dirgantara dan gerobak roti pada Jakarta yang masih sepi. Lukisan ini membangkitkan ingatan saya pada tahun 1970, ketika saya kanak-kanak. Kami tinggal di daerah Dukuh Atas.”

“Jika hendak ke Pasar Minggu membeli buah, kami naik oplet. Di persimpangan Pancoran, saya selalu terkagum-kagum melihat patung orang terbang di langit. Saya berpikir apakah jika helicak diberi baling-baling, bisa terbang ke dekat patung itu?” (Fatin Hamamah)

# # # 2. Penjelasan Konteks dan Latar Belakang

Memberikan informasi tentang latar belakang seniman, periode seni, atau konteks sosial dan budaya dari karya seni bisa memberikan kedalaman tambahan pada ulasan.

Ini membantu pembaca memahami lebih baik makna dan signifikansi dari karya tersebut.

Ketika melihat lukisan soal Fernando Botero di pameran lukisan Denny JA, ia mengisahkan pengalaman pribadinya dengan lukisan asli sang pelukis di negara lain.

“Di sini, saya teringat pada Botero tadi. Saya pertama kali jatuh hati pada karya Botero yang khas, yaitu proporsi tubuh dan bentuk yang bervolume saat melihat langsung karya-karyanya di Museo Botero di Kawasan La Candelaria, di jantung Kota Bogotá, Kolombia tahun 2015 silam.”

“Saat itu, saya sedang mengikuti short course di Universidad Externado de Colombia melalui program ELE Focalae atau Foreign Language Focalae initiative.”

“Seperti saya sebut di atas, saya juga tertarik pada Botero tentang sudut pandangan tentang lukisan yang tidak umum. Dia mempunyai kutipan yang terkenal: “Art was created to give a pleasure”. (Amelia Fitriani)

Ketika melihat lukisan soal derita anak-anak Palestina di Gaza, ada yang memberikan konteks data lukisan itu.

“Ya, lukisan itu mewakili realitas tragedi kemanusiaan yang paling memilukan saat ini. Bisa dibayangkan, dalam 8 bulan penyerangan Israel ke Gaza, Rafah, dan sekitarnya, kantor berita WAFA Agency Palestina melaporkan jumlah korban yang fantastis: 37.084 orang tewas, dan 84.494 orang luka-luka.

Publik luas telah menyebut operasi pembantaian yang dilakukan Israel ini sebagai genosida. Dan Israel bergeming. Di hari warga Palestina merayakan Idul Adha sekali pun, pasukan Israel juga melancarkan serangan udara di lingkungan Tel al-Sultan di Rafah.

Dalam liputannya, Tempo bahkan menyebutkan, selama 8 bulan operasinya, Israel telah menjatuhkan 70 ribu ton bom di Jalur Gaza, atau jauh melampaui gabungan jumlah bom yang digunakan di Dresden, Hamburg, dan London selama Perang Dunia II.”

“Menurut berbagai perkiraan, termasuk arsip dari New York Times, selama Perang Dunia II berlangsung, Jerman membom London dengan menjatuhkan sekitar 18.300 ton bom antara tahun 1940 dan 1941.”

“Sedangkan Hendrik Althoff, seorang peneliti di Departemen Sejarah di Universitas Hamburg mengatakan sekutu menjatuhkan 8.500 ton bom di Hamburg pada musim panas 1943. Sekutu juga menggunakan 3.900 ton bom di Dresden pada Februari 1945 berdasarkan catatan sejarah.” (Anick HT)

# # # 3. **Deskripsi Visual yang Mendetail**

Menggambarkan detail visual karya seni dengan cara yang vivid dan deskriptif membantu pembaca yang mungkin belum melihat karya tersebut merasakan keindahan dan kompleksitasnya.

Lukisan serial tema Lailatul Qadar, ada yang menguraikannya seperti ini:

“Contohnya tema “Lailatul Qadar” yang terdiri dari belasan lukisan dalam berbagai ukuran kanvas dan bauran visual.”

“Komposisi lukisan bersifat tipikal dengan separuh bagian atas menggambarkan kondisi langit malam dalam format aneka bentuk garis, k***a, dan warna. Sedangkan separuh bagian bawah menampilkan manusia dalam berbagai jumlah dan posisi.”

“Kadang seorang, kadang banyak. Kadang lelaki, kadang perempuan. Semua dalam posisi berdoa. Khusyuk.

“Dengan membuat serial lukisan bertema ini, Denny JA bukan saja sedang meletakkan hati dan kerinduan spiritualnya ke atas kanvas, juga seakan hendak melengkapi Teori Kebutuhan Dasar ( _Hierarchy of Needs)_ dari Abraham Maslow.”

“Bahwa manusia tak cukup hanya ditopang dengan kebutuhan fisiologis ( _physiological needs_), kebutuhan keamanan ( _safety needs_), kebutuhan sosial ( _social needs_), kebutuhan ego ( _egoistic needs)_ dan kebutuhan aktualisasi diri ( _self-actualization needs_). Manusia juga perlu kebutuhan keyakinan ( _spiritual needs_) secara mutlak, terlepas dari tingkat aktualisasi diri yang sudah diraihnya.” (Akmal Nasery Basral)

Ketika melihat lukisan wajah yang tak terlalu detil, ada komentar ini:

“Yang menarik, kualitas ketajaman wajah pada lukisan itu berbeda-beda. Ada yang detailnya muncul. Karakter wajah jadi tebal. Ada p**a tidak banyak garis di muka.”

“Wajah Ibu Teresa, di beberapa lukisan di sini, banyak ragamnya. Bahkan wajah pelukis Affandi, yang memiliki gaya aut-autannya, detailnya juga hilang.”

“Tentu saja hal ini disengaja oleh Denny. Sebab aplikasi AI sebenarnya mampu mengeluarkan detail wajah seseorang. Tapi Denny tidak melakukannya, atau tidak memilih aplikasi berintelejen untuk mengeluarkan guratan wajah seseorang.”

“Saya menduga, lukisan Denny JA di Mahakam 24 Residence ini tidak ditekankan pada detail wajah atau obyek lain di lukisan itu. Denny lebih mengutamakan pada pesan yang ingin disampaikannya melalui rangkaian gambar yang dipilihnya.”

“Misalnya, Denny mengkontraskan wajah Presiden Amerika Serikat pertama dengan Presiden AS di masa depan, berupa wajah robot. Titipan pesan yang dikatakan: seorang Presiden di masa depan bisa jadi berupa unit robot pintar.”

“Kepemimpinan di masa itu tidak perlu lagi melihat ideologi, atau partai, atau kepopuleran seorang tokoh. Yang penting adalah efektivitas pemimpin membuat kebijakan publik, yang bermanfaat untuk semua pihak di negara itu, dan negara menjadi makmur.” (Jonminofri Nazir)

# # # 4. **Mengajukan Pertanyaan dan Mengundang Diskusi**

Mengajukan pertanyaan retoris atau mengajak pembaca untuk berpikir lebih dalam tentang elemen-elemen karya seni bisa memicu refleksi dan diskusi, membuat ulasan lebih interaktif.

Ketika melihat lukisan seorang ibu menggend**g bayi, tapi itu bayi robot dengan artificial intelligence, ia membahasnya seperti ini:

“Kevin bertanya kepada sang Ibu, 'Tidakkah kamu takut bahwa bayi AI kamu, suatu saat akan mengkhianati kamu, dan malah mengambil alih kontrol atas umat manusia?' dan Ibu itu hanya tersenyum.”

“Kemudian, Einstein bergabung dalam diskusi. Dia mengutip Sam Harris, seorang filsuf dan ahli neurosains Amerika, yang menyatakan bahwa persepsi AI terhadap kemanusiaan mungkin mencerminkan pandangan kita sendiri terhadap makhluk yang lebih rendah — bukan benci atau jahat tetapi acuh tak acuh terhadap keberadaan kita, seperti misalnya, kepada semut.”

“Potensi AI mencerminkan kesadaran dan nilai-nilai manusia itu sendiri.” (Monica JR).

Setelah merenungkan keseluruhan lukisan, dengan asisten Artificial Intelligence, ada yang mengajukan renungan:

“Pertanyaan yang muncul adalah apakah dunia seni lukis akan menjadi lebih bergairah karena kini orang bisa melukis dengan bantuan AI, seperti yang terjadi pada Denny JA?”

“Menurut saya, para pelukis yang sudah mapan, yang selama ini telah melukis dengan cara konvensional, mungkin merasa skeptis atau enggan untuk menggunakan AI sebagai alat bantu dalam proses kreatifnya.”

“Mereka telah mengembangkan keterampilan mereka selama bertahun-tahun, membangun hubungan yang intim antara diri para pelukis dan kanvas, mengungkapkan emosi, pengalaman, dan visi mereka melalui sentuhan kuas yang dipenuhi dengan perasaan.”

“Bagi banyak pelukis konvensional, proses melukis adalah sebuah perjalanan spiritual yang mengalir dari hati dan jiwa. Mereka mungkin merasa bahwa penggunaan AI dalam proses kreatif dapat mengurangi keintiman dan keaslian dalam karya seni mereka.”

“Bagi mereka, keindahan seni tidak hanya terletak pada hasil akhir, tetapi juga pada perjalanan artistik yang mereka alami selama proses menciptakan.” (Elza Peldi Taher).

Pandangan lain yang juga mengajak merenung: “AI memang memiliki potensi untuk mengubah lanskap profesi pelukis, tetapi tidak harus dilihat sebagai ancaman langsung.”

“Sebaliknya, AI dapat dilihat sebagai alat yang dapat digunakan untuk memperluas kemampuan kreatif dan membuka peluang baru.”

“Pelukis yang mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi AI mungkin menemukan cara baru untuk berkembang dalam profesi mereka. Pada saat yang sama, nilai-nilai keaslian, kreativitas manusia, dan emosi dalam seni tetap menjadi faktor penting yang sulit digantikan oleh mesin.”

“Bagaimanapun, tantangan etis dan filosofis tentang peran seniman dan sifat seni itu sendiri akan tetap ada. Masa depan seni lukis dengan AI tampaknya akan terus berkembang, seiring kemajuan teknologi dan adaptasi oleh komunitas seni.”

“Dalam hal ini, kita patut mengapresiasi Denny JA yang telah merintis, melakukan eksperimen, dan eksplorasi penggunaan AI dalam dunia seni lukis. Apakah lukisan-lukisan karya Denny yang berbasis AI ini akan mendapat penerimaan meluas dari publik dan komunitas seni lukis Indonesia?”

“Kita tunggu saja. Yang jelas, tanpa menunggu reaksi publik, Denny tampaknya akan terus berkarya.” (Satrio Arismundar)

Banyak lagi ulasan penting dari penulis lain, seperti ulasan Budhy, Esthi, Halimah, Nazrina, Iwan, Ali, Nisak, Nia, Asrun, Anwar, Meutia, Nita, Isti dan Mila. Namun tak semuanya bisa ditampilkan karena keterbatasan halaman.

Elza Peldi Taher sebagai editor mampu merangkum keseluruhan review dari non- kritikus seni rupa itu dengan baik.

-000-

Review orang awam terhadap pameran lukisan tetap penting bagi pelukis dan pembaca lain.

Orang awam cenderung memberikan pandangan yang segar dan otentik. Mereka jujur dan tidak terpengaruh oleh teori seni yang kompleks.

Ini memberikan pelukis wawasan tentang bagaimana karyanya diterima oleh publik umum, yang seringkali lebih representatif dari audiens yang lebih luas dibandingkan dengan kritik profesional.

Perspektif segar ini juga dapat menginspirasi pelukis untuk melihat karya mereka dari sudut pandang baru.

Bagi pembaca lain, mengetahui bahwa orang awam bisa terhubung dengan seni memberikan keyakinan bahwa mereka juga bisa mengapresiasi dan menikmati seni tanpa harus menjadi ahli.***

Jakarta, 24 Juli 2024

CATATAN

(1) Tentang Whitney Biennial 2017 di [Artspace](https://www.artspace.com/magazine/art_101/book_report/whitney-biennial-2017-can-it-match-1993s-legacy-54690)

Address

Jalan Pringgodani 31, Sedati
Sidoarjo
61253

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Digi Cop Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share