01/06/2023
ATAP SIRAP ULIN
Produk Kayu Ulin Olahan (Prokalino) adalah produk kayu olahan dan turunannya serta barang jadi yang berbahan baku Kayu Ulin.
Kayu Ulin (Eusideroxylon Zwageri, T. Et. B) termasuk dalam Famili Lauraceae sering juga disebut kayu besi karena memiliki sifat kayu yang kuat dan awet yang tahan terhadap serangan rayap dan serangga penggerek juga tahan puluhan tahun terhadap cuaca dan gerusan air. Dengan karakteristik ini, pada zaman dulu, kayu ulin banyak digunakan untuk konstruksi jembatan, dermaga, bangunan yang terendam air, bantalan kereta api, perkapalan dan lain-lain. Dewasa ini ulin juga banyak digunakan sebagai bahan Atap sirap, lantai kayu dan decking.
Atap Sirap (“Iron Wood Shingle Roof”) merupakan penutup atap / genteng yang terbuat
Tunggul kayu ulin bekas tebangan akibat pembukaan lahan di Kalimantan yang telah dilakukan puluhan tahun lalu.. Tingkat ketahanan yang tinggi terhadap air dan tahan rayap membuat atap sirap kayu ulin bertahan hingga puluhan tahun. Di Indonesia sendiri, sejauh pengamatan dan pengalaman kami, atap sirap banyak digunakan pada bangunan – bangunan bersejarah seperti: museum, keraton, balai konservasi dll. Ada juga yang dipakai di tempat tempat ibadah seperti: masjida dan gereja. Pengguna terbanyak dari atap sirap adalah dari kalangan penyedia sarana prasarana wisata seperti hotel, cottage, bungalow, resort, gazebo.
Kelebihan dan kekurangan atap sirap,
Kelebihan:
Dapat menahan hawa panas yang terpancar dari sinar matahari. Hal ini dikarenakan kayu merupakan jenis material yang jelek untuk menghantarkan panas.
Kesan natural / alami lebih terlihat
Bagi kalangan tertentu, merupakan prestise tersendiri karena selain harganya yang relatif berlipat ganda dari genteng biasa, juga masih digunakan di kalangan terbatas.
Kuat dan tahan lama karena dibuat dari kayu pilihan yang sudah teruji kekuatannya.
Kekurangan:
Harganya relatif lebih mahal.
maintenance nya lebih sulit dari pada genteng yang lain.
Suku cadang terbatas hanya pada suplier tertentu.
Tidak semua penjual genteng menjual atap sirap.
Varian jenis atap sirap masih belum banyak.
Jenis sirap menurut cara pembuatan
1. Sirap Belah
Sirap Belah adalah sirap yang diproduksi melalui keterampilan tangan dengan menggunakan peralatan secara tradisional berupa parang khas Kalimantan. Sirap Jenis ini memerlukan bahan khusus yang sangat baik agar menghasilkan produk tanpa cacat. Sirap jenis ini mempunyai ketahanan yang sangat baik karena alur belah sirapnya mengikuti serat bahan baku kayunya.
2. Sirap Circle / Mesin
Sirap Mesin merupakan jenis sirap yang paling popular dan baling banyak beredar saat ini. Kelebihan Jenis Sirap Mesin adalah Teksturnya yang rata dan ukuran yang presisi dengan ketebalan merata, sehingga memudahkan cara pemasangan sirap itu sendiri. Dikerjakan dengan bantuan mesin modern sehingga bisa menghasilkan produk yang banyak dalam waktu relative singkat.
Bentuk sirap kayu:
Sirap Runcing / Lancip, yaitu sirap yang ujung depannya berbentuk Lancip
Sirap Kotak, yaitu sirap yang bagian ujungnya berbentuk kotak atau persegi
Sirap Oval, yaitu sirap yang bagian ujungnya berbentuk Oval atau seperempat lingkaran.
✔️ Spesifikasi & ukuran Sirap
✅ Panjang: ± 60 cm
✅ Lebar : ± 8 cm
✅ Tebal : ± 0.5 cm
✅ Jenis : Serkel
✅ Bentuk Runcing
✅ Kemasan : Ikat
✅ 1 Ikat : 80 keping
✅ 1 ikat = ± 1 m²
✅ Dimensi ikat:
± 16 x 25 x 60 cm
✅ Berat: ± 20 kg / ikat
✅ Kubikasi (m³)
0,023 m³/ikat
Adapun sirap yang saat ini banyak dijual, terbuat dari Tunggul kayu ulin bekas tebangan akibat pembukaan lahan di kalimantan. Tidak heran apabila kayu ulin harganya semakin mahal dari masa ke masa.
Prokalino sebagai salah satu spesialis atap sirap melayani: Penjualan & Jasa pemasangan atap sirap yang dikerjakan oleh tenaga profesional + berpengalaman.
Proses Produksi Sirap
Sebagaimana kita ketahui bahwa atap sirap secara umum dibuat dari kayu ulin kalimantan, Sirap Ulin yang beredar di Indonesia terbuat dari bahan baku kayu ulin yang merupakan limbah Tebangan / tunggul pohon ulin sebagai dampak pembukaan lahan baru di Kalimantan dengan lokasi kedalaman lebih dari 150 KM di luar Pusat Kota.
Selain proses pengangkutan yang memakan waktu, Sehingga kami harus melakukan sortir sejak dari bahan baku, Dari tunggul yang masih berupa Log pendek tersebut kami belah menjadi beberapa bagian, kemudian kami proses menjadi bilahan bilahan kayu selanjutnya kita proses lagi menjadi sirap ulin.